Hari itu ada pertandingan lari di sekolahnya. Richard, seorang anak berusia 11 tahun memasuki lapangan sendiri, dengan senyum selebar mungkin. Berbeda dengan anak lainnya. Anak-anak lain memasuki lapangan dengan orang tua mereka. Orang tua teman-temannya memeluk dan menciumi anak anak mereka. membisikkan kata-kata penyemangat dan Good Luck di telinga masing-masing anak. Richard melihat mereka dengan sedih. Karena hanya dirinya yang tak memiliki orang tua sebagai penyemangat dirinya. Menyadari bahwa dia tak memiliki orang tua sejak bayi. Dirinya dititipkan pada neneknya namun beliau meninggal 3 minggu lalu. Perlahan, air mata menetes dari mata kacang almond itu. Membasahi pipinya yang kemerahan.
"Semua bersiap!" Teriak sang guru olahraga.
Richard dengan segera menghapus air matanya dan bersiap. Salah seorang temannya bertanya "mengapa kau menangis Richard? ada yang salah?"
Lalu Richard menjawab "tidak,"
Dan mereka berlari. Richard selalu menyukai berlari. Ia senang dengan suara angin dan tapak kaki kawan-kawannya. Richard meraih juara 2 dalam lomba itu, dan temannya yang tadi menanyakan keadaannya meraih juara 3.
"Richard, aku yakin tadi dirimu menangis, ada apa?" tanya sang teman.
"Aku takkan menangis lagi jika kau selalu ada disini bersamaku." kata Richard.
"Huff.. Aku agak kesal dengan ayah dan ibuku, mereka memelukku seperti aku akan pergi sangat jauh."
"Asal kau tahu, aku tadi menangis karena melihat ayah dan ibumu memelukmu"
Mulut sang teman menganga lebar sekali. Ia sama sekali tak mensyukuri apa yang ia dapatkan. Ia lupa, bahwa Richard adalah sebtang kara. Simpai keramat. Lalu Ayah dan ibunya mendatangi mereka
"Lihat, Boy, kamu mau mengajak dia makan malam?"
"entah? kau mau?"
"Tentu" kata Richard
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Januari 2009
Rabu, 17 Desember 2008
Malam Bertaburkan Hujan
Untuk kesekian kalinya hujan menemani sepinya diriku di rumah ini. Sejuk dan harumnya hujan memaksaku untuk tersenyum. Dengan segera aku mengambil termos dan satu sachet coklat, segelas coklat hangat pasti akan nikmat sekali, pikirku. Mataku menerawang keluar, menerobos derasnya hujan, sambil berkhayal bahwa Doni akan turun dari mobil taftnya, datang dengan sebuah pohon natal, lalu mengetuk pintuku. Namun itu hanyalah khayalan.
Natal tahun ini sedikit, maksudku ganjil. maksudku bukan lagi sedikit ganjil, namun amat ganjil, sebab tahun ini aku melalui natal tanpa Doni, setelah 5 tahun. Aku merindukan saat aku berpikir keras hadiah apa yang akan kuberikan padanya pada tahun pertama, dan saat aku dengan diam-diam belajar merajut untuk membuat sweater untuknya, dan tentunya untukku.
Hujan dengan derasnya mengguyur Surabaya, tak membiarkan setitikpun bagian dari The Big Metropolis city ini kering. Samar-samar terdengar suara dari hpku, "Santa Claus is Coming To town..." yah, ini adalah dering hpku selama bulan desember ini. Dengan enggan aku meninggalkan tempat strategisku dan menghampiri hpku. Doni..
Astaga! aku kaget sekali. Ini Doni yang menelepon!
" ha.. Halo," kataku. kuusahakan suaraku tak terdengar bergetar.
" Rhea..?" kata Doni di seberang sana.
" ya?"
" engg.. km mau bukain pintu nggak?"
" emang kamu dimana?"
" di depan," sekarang perasaanku campur aduk nggak karuan. Untuk apa Doni datang ke sini, kan hujannya deras banget di luar?
" engg oke."
.......
Tahun ini, aku tidak jadi mengalami BLUE CHRISTMAS..
karena..
tahu sendiri la..
Natal tahun ini sedikit, maksudku ganjil. maksudku bukan lagi sedikit ganjil, namun amat ganjil, sebab tahun ini aku melalui natal tanpa Doni, setelah 5 tahun. Aku merindukan saat aku berpikir keras hadiah apa yang akan kuberikan padanya pada tahun pertama, dan saat aku dengan diam-diam belajar merajut untuk membuat sweater untuknya, dan tentunya untukku.
Hujan dengan derasnya mengguyur Surabaya, tak membiarkan setitikpun bagian dari The Big Metropolis city ini kering. Samar-samar terdengar suara dari hpku, "Santa Claus is Coming To town..." yah, ini adalah dering hpku selama bulan desember ini. Dengan enggan aku meninggalkan tempat strategisku dan menghampiri hpku. Doni..
Astaga! aku kaget sekali. Ini Doni yang menelepon!
" ha.. Halo," kataku. kuusahakan suaraku tak terdengar bergetar.
" Rhea..?" kata Doni di seberang sana.
" ya?"
" engg.. km mau bukain pintu nggak?"
" emang kamu dimana?"
" di depan," sekarang perasaanku campur aduk nggak karuan. Untuk apa Doni datang ke sini, kan hujannya deras banget di luar?
" engg oke."
.......
Tahun ini, aku tidak jadi mengalami BLUE CHRISTMAS..
karena..
tahu sendiri la..
Langganan:
Postingan (Atom)
